Jakarta – Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja, ia merintih di bawah beban geopolitik yang kian menyesakkan, di mana Timur Tengah bukan sekadar titik koordinat geografis, melainkan episentrum dari nubuatan yang mulai menampakkan wujudnya secara empiris, demikian Fahd A Rafiq mengawali premisnya, di Jakarta pada Senin, (16/3/2026) atau 26 Ramadhan 1447 H.
Melihat Iran bukan hanya melalui lensa politik luar negeri konvensional, namun melampauinya hingga menyentuh relung eskatologi yakni studi tentang akhir zaman adalah upaya intelektual untuk membedah bagaimana bangsa Arya ini memposisikan diri dalam konstelasi sejarah yang sakral sekaligus profan, cetusnya.
Secara filosofis, keteguhan bangsa Iran dalam mempertahankan kedaulatannya mencerminkan sebuah resistensi ontologis terhadap hegemoni global yang mencoba menyeragamkan peradaban, sebuah fenomena yang jarang dipahami oleh mereka yang hanya berpijak pada nalar materialistik semata, tutur Fahd.
Ada sebuah garis merah yang menghubungkan masa lalu yang agung dengan masa depan yang penuh dengan misteri transendental, di mana setiap kebijakan strategis yang diambil seolah-olah merupakan bagian dari skenario besar yang telah tertulis dalam kitab-kitab kuno tentang kebangkitan kembali kekuatan dari Timur, paparnya.
Ketua Umum DPP BAPERA ini menekankan bahwa dalam struktur pemikiran kritis, kita tidak boleh mengabaikan variabel keyakinan yang menjadi motor penggerak utama bagi sebuah bangsa untuk bertahan hidup di tengah sanksi ekonomi yang mencekik selama puluhan tahun, ungkapnya.
Ketajaman analisa memperlihatkan bahwa Iran bukan sekadar entitas negara, melainkan sebuah ideologi yang hidup, yang bernapas melalui memori kolektif tentang kejayaan Persia dan harapan akan kedatangan sosok penyelamat yang dijanjikan dalam berbagai literatur eskatologis, tukasnya.
Mantan Ketua Umum PP – AMPG melihat dinamika ini menuntut kita untuk melepaskan diri dari bias informasi Barat dan mulai memandang realitas secara objektif, melihat bagaimana kekuatan spiritualitas mampu menjelma menjadi kekuatan militer yang diperhitungkan di kancah global, tandasnya.
Dunia sedang menyaksikan pergeseran paradigma, di mana logika sekuler mulai goyah saat berhadapan dengan keyakinan yang berakar kuat pada interpretasi nubuatan, menciptakan sebuah diskursus yang menggugah nalar dan alam bawah sadar setiap manusia yang haus akan kebenaran hakiki, cetusnya.
Sebagai suami dari Ranny (Anggota DPR RI Komisi IX), ia memahami bahwa ketahanan nasional suatu bangsa sangat bergantung pada bagaimana mereka memaknai identitas historisnya, termasuk pemahaman mendalam tentang peran strategis mereka dalam babak akhir sejarah manusia, ujarnya.
Imaginasinya yang kontemplatif membayangkan betapa ngerinya jika konflik di tanah para nabi ini meletus tanpa kendali, karena ini bukan sekadar perebutan sumber daya, melainkan benturan eksistensial yang melibatkan keyakinan paling mendasar dari jutaan jiwa, bebernya.
Mantan Ketua Umum DPP KNPI tersebut melihat adanya pola-pola yang sinkron antara data intelijen masa kini dengan narasi-narasi klasik yang telah berusia ribuan tahun, menciptakan sebuah teka-teki intelektual yang hanya bisa dipecahkan oleh mereka dengan IQ di atas rata-rata, imbuhnya.
Secara historis, bangsa Iran memiliki resiliensi yang luar biasa, mereka adalah ahli catur dalam panggung politik internasional, selalu bergerak beberapa langkah di depan lawan-lawan mereka karena landasan filosofis mereka jauh lebih dalam dari sekadar pragmatisme politik, terangnya.
Mantan Ketua Umum GEMA MKGR, figur ini menyoroti bagaimana pemuda di wilayah tersebut dibentuk oleh narasi-narasi kepahlawanan dan kesyahidan, yang secara psikologis menciptakan sebuah benteng pertahanan mental yang sulit ditembus oleh infiltrasi budaya asing, jelasnya.
Kekuatan eskatologi dalam politik Iran bukan sekadar bumbu retorika, melainkan instrumen analisis untuk memetakan siapa kawan dan lawan dalam skenario global yang kian mendekati titik kulminasi, sebuah pemikiran yang sangat kritis dan tajam, sebutnya.
Pengusaha Muda ini pun melihat bahwa ekonomi kedaulatan yang diterapkan di sana merupakan manifestasi dari keyakinan bahwa keadilan sosial harus ditegakkan sebelum masa berakhirnya dunia tiba, sebuah konsep yang memadukan antara profitabilitas dan spiritualitas, urainya.
Melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang memungkinkannya menyimpulkan bahwa ketegangan antara Teheran dan sekutunya dengan blok rival adalah manifestasi dari kompetisi narasi akhir zaman yang kian memanas di abad ke-21 ini, tegasnya.
Sebagai artis dan seniman, ia mampu menangkap keindahan dalam tragedi dan harapan dalam penderitaan bangsa tersebut, di mana setiap puisi dan karya seni yang lahir dari sana selalu membawa pesan tersembunyi tentang kerinduan akan harmoni universal, ulasnya.
Darah seni yang mengalir dari putra musisi legend A Rafiq memberinya kepekaan untuk mendengar nada-nada yang tidak terdengar dalam hiruk-pikuk berita dunia, menangkap esensi dari setiap peristiwa sebagai sebuah simfoni besar takdir kemanusiaan, gumamnya.
Fahd A Rafiq berpendapat bahwa kita perlu melakukan dekonstruksi terhadap cara kita memandang Timur Tengah, tidak hanya sebagai ladang minyak, tetapi sebagai teater, di mana drama kosmik sedang dipentaskan dengan sangat apik dan penuh makna, serunya.
Setiap paragraf sejarah yang sedang ditulis saat ini adalah refleksi dari perjuangan manusia mencari makna di tengah kekacauan, di mana bangsa Iran telah memilih jalannya sendiri dengan penuh kesadaran akan konsekuensi eskatologis yang menyertainya, terangnya.
Secara metaforis, Iran adalah burung Phoenix yang selalu bangkit dari abu kehancuran, membuktikan bahwa spirit sebuah peradaban tidak akan pernah bisa dipadamkan selama api keyakinan masih menyala di dada setiap warga negaranya, tuturnya.
Kontemplasi yang mendalam membawa kita pada sebuah kesadaran bahwa waktu bukanlah garis lurus yang tak berujung, melainkan sebuah lingkaran yang akan kembali pada titik di mana kebenaran akan berdiri tegak di atas segala kebatilan, tegas Fahd.
Psikologi massa yang digerakkan oleh harapan akan masa depan yang lebih adil adalah kekuatan yang jauh lebih dahsyat daripada hulu ledak nuklir mana pun, dan inilah yang menjadi inti dari kekuatan bangsa Persia di mata dunia, pungkasnya.
Analisis yang tajam menunjukkan bahwa setiap manuver diplomatik di meja perundingan adalah pantulan dari strategi besar yang telah dipersiapkan untuk menghadapi transisi zaman yang kian nyata di depan mata, tandas Fahd.
Struktur bahasa yang rapi mencerminkan keteraturan berpikir seorang intelektual sejati yang mampu menyatukan kepingan-kepingan fakta menjadi sebuah narasi utuh yang menggugah kesadaran terdalam setiap pembacanya tentang arti penting memahami eskatologi, sahutnya.
Tanpa menghilangkan esensi, ia mengajak kita untuk merenung sejenak, menjauh dari kebisingan duniawi, dan mulai memperhatikan tanda-tanda zaman yang tertulis jelas di cakrawala politik internasional saat ini, ajaknya.
Kekritisan berpikir adalah kunci untuk tidak terjebak dalam propaganda dangkal, memungkinkan kita untuk melihat bagaimana sebuah bangsa besar mempersiapkan dirinya untuk memainkan peran kunci dalam skenario akhir sejarah, tambah Fahd.
Observasi lapangan yang akurat mengonfirmasi bahwa ada getaran perubahan yang luar biasa kuat, sebuah resonansi spiritual yang melampaui batas-batas negara dan menyentuh hati setiap manusia yang mendambakan keadilan hakiki, simpulnya.
Eksistensi bangsa Iran dalam narasi eskatologi adalah pengingat bagi kita semua bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari sekadar kekuasaan politik, yaitu kekuatan doa dan keyakinan akan janji Tuhan yang pasti akan terwujud, tekannya.
Fahd menambahkan Bangsa Persia adalah memang bangsa yang dipersiapkan yang ada dibelakang langsung Imam Mahdi. Salah satu literatur eskatologi yang paling populer menyebutkan tentang kemunculan pasukan dengan Panji-Panji Hitam (Rāyāt al-Sūd) yang datang dari wilayah Khurasan. Secara historis dan geografis, Khurasan Raya mencakup wilayah Iran, Afghanistan, dan sebagian Asia Tengah. Dalam narasi ini, pasukan tersebut dikatakan akan membuka jalan dan memberikan kekuasaan kepada Al-Mahdi.
Fahd menegaskan Jika bangsa Yahudi dalam Al quran bangsa yang dilebihkan Surah Al-Baqarah ayat 47:
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي
فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
Yā banī isrā’īla-żkurū ni‘matiyal-latī an‘amtu ‘alaikum wa annī faḍḍaltukum ‘alal-‘ālamīn.
“Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu di atas seluruh umat
Maka bangsa Persia Muncul sebagai antitesis intelektual dan militer. Jika bangsa sebelumnya dianggap gagal menjaga amanah, bangsa Persia digambarkan sebagai kaum yang akan mencari iman bahkan hingga ke bintang Tsurayya (Pleiades).
Kedua bangsa ini akan bertarung hingga akhir zaman. Perang Iran dengan USA dan Israel saat ini adalah catatan ilmu eskatologi yang sedang sedang berjalan dan ummat manusia saat ini sedang menyaksikan.
Dosen yang mengajar di negeri Jiran Malaysia ini menutup narasinya dengan sebuah refleksi bahwa hanya mereka yang memiliki kejernihan hati dan ketajaman rasio yang mampu membaca arah angin takdir di tengah badai zaman yang kian menderu, tutupnya.
Penulis: A.S.W






























