GAYO LUES – Wakil Bupati Gayo Lues, H. Maliki, secara resmi membuka Pacuan Kuda Tradisional Gayo Lues Tahun 2025 di Stadion Pacuan Kuda Buntul Nege, Balngsere, Selasa, 21 Oktober 2025. Kegiatan ini menjadi bagian dari perayaan HUT ke-80 Republik Indonesia dan berlangsung meriah di tengah sorak-sorai masyarakat yang memadati arena.
Acara pembukaan dihadiri unsur Forkopimda, kepala dinas, dan masyarakat dari berbagai daerah di Tanah Gayo. Dalam sambutannya, H. Maliki menegaskan bahwa pacuan kuda bukan sekadar ajang olahraga, melainkan tradisi yang memiliki nilai budaya dan sosial tinggi.
“Pacuan kuda ini adalah tradisi luhur yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur kita. Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya menjaga budaya, tetapi juga mempererat silaturahmi antarwarga serta menumbuhkan semangat sportivitas,” ujar Maliki di hadapan ribuan penonton.
Ia mengingatkan bahwa keberhasilan penyelenggaraan pacuan kuda menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah daerah, panitia, dan masyarakat. “Mari kita jaga keamanan, ketertiban, dan nilai-nilai Syariat Islam selama pelaksanaan berlangsung. Pacuan ini bukan hanya hiburan, tetapi simbol persaudaraan dan gotong royong masyarakat Gayo,” katanya.
Usai memberikan sambutan, Maliki menyematkan pita sebagai tanda dimulainya lomba, lalu melepas kuda pertama yang disambut gemuruh penonton.
Tahun ini, pacuan kuda tradisional diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah, termasuk Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Aceh Tenggara, dengan Gayo Lues sebagai tuan rumah. Perlombaan dijadwalkan berlangsung hingga 26 Oktober 2025, menampilkan kecepatan dan ketangkasan kuda khas dataran tinggi Gayo dalam berbagai kategori.
Suasana arena tampak semarak, dihiasi spanduk warna-warni dan iringan musik tradisional yang mengiringi sorak penonton. Warga membawa atribut khas daerah, menambah warna pada perayaan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Gayo Lues berharap pacuan kuda terus menjadi ikon budaya dan daya tarik wisata daerah, sekaligus memperkuat jati diri masyarakat sebagai penjaga warisan leluhur.(Rea)






























